Sign In

Remember Me

Cerita Dari Aghanistan; You Should Thank God You Are Indonesian

Pemandangan distrik Bamiyan, Afghanistan

Pemandangan distrik Bamiyan, Afghanistan

“Indonesian people are so relax and enjoy their time. We cannot be like this back in our country”

Kalimat di atas diucapkan oleh Harun, seorang peserta training dari Afghanistan ketika kami melintas di sekitar pantai Losari di minggu pagi yang ramai. Kalimat itu jadi pembuka percakapan kami selanjutnya. Harun dan 17 orang kawannya datang dari negeri di utara India itu untuk bertukar pikiran tentang bagaimana mendampingi sebuah komunitas sebagai seorang fasilitator.

“Kami punya masalah besar dengan keamanan”, Harun memulai ceritanya. Afghanistan memang negeri yang terus bergolak. Setelah melepaskan diri dari penjajahan Uni Sovyet, mereka sempat merasakan kedamaian di bawah pemerintahan Mujahiddin selama kurang lebih 2 tahun. Tapi kemudian semua berubah ketika kaum Taliban datang dan mengambil alih kekuasaan.

Taliban yang sangat ekstrem membuat Afghanistan hidup dalam kegelapan selama 7 tahun. Semua akses informasi ditutup, tidak ada televisi, tidak ada radio, tidak ada surat kabar. Para wanita dilarang keluar rumah, mereka hanya boleh tinggal di dalam rumah. Lupakan soal sekolah, sekolah hanya buat para pria. Itupun tidak ada pelajaran umum, semua hanya pelajaran tentang agama.

Kemudian Amerika dan sekutunya datang. Selepas serangan 11 September, Amerika menjadikan Afghanistan sebagai sasaran, mereka menuduh Taliban mendukung penuh Al-Qaeda yang jadi otak di belakang serangan 11 september. Amerika berhasil mengusir Taliban, mereka datang dengan alasan membawa demokrasi, kebebasan dan kedamaian.

Tapi kenyataannya tidak seindah itu. Taliban yang terusir dari pemerintahan tidak lantas menjadi lemah. Mereka tetap punya kekuatan untuk membawa ketakutan. Mereka sudah berikrar, siapapun yang bekerja untuk pemerintah yang mereka anggap sebagai boneka kaum kafir adalah musuh mereka. Apalagi mereka yang bekerja untuk donor asing atau lembaga asing. Mereka semua kafir, dan karena itu halal untuk dibunuh.

Harun menceritakan semua ketakutan yang membayangi mereka selama ini. Mereka tidak bebas ke sana ke mari, selalu ada kekhawatiran diculik dan dilenyapkan oleh kaum Taliban. Mereka tidak bebas membangun apa saja tanpa ijin dari kaum Taliban. Membangun jembatan tanpa ijin Taliban sama saja menyiapkan sesuatu yang siap untuk dihancurkan oleh kaum Taliban kapanpun mereka mau.

“Tapi kalian kan punya tentara sendiri? Kenapa kalian harus takut?”, Tanya saya pada Harun. Lelaki berkulit putih dengan wajah sangat Arab itu tertawa kecil sebelum menjawab.

“Tentara kami memang dilengkapi senjata modern dan lengkap, tapi jujur saja mereka juga takut pada Taliban”, katanya. Taliban dikenal sebagai pejuang yang tidak kenal rasa takut. Mereka sudah bergerilya bertahun-tahun di gunung-gunung Afghanistan, mereka tahu betul medan berat di sana. Bagi mereka, kematian adalah sebuah pencapaian puncak menuju jihad yang sempurna. Tak heran bila tentara pemerintah selalu gemetar mendengar nama mereka.

Harun bercerita bagaimana dia harus mengganti semua identitas ketika harus keluar kota. Pakaian modernnya terpaksa ditanggalkan, diganti dengan pakaian khas Afghanistan yang kumal dan lusuh. Semua kartu pengenal ditinggal di rumah, bahkan sim card telepon harus diganti dan semua nama di telepon akan dihapus. Taliban bisa menghadang mereka kapan saja, dan bisa melacak kebenaran identitas mereka dari nama di buku telepon.

“Jika kami ditangkap Taliban, maka ini yang akan terjadi”, Harun menggerakkan tangannya di depan leher. Maksudnya kepala mereka akan dipenggal. “Kami sudah banyak kehilangan teman baik dan orang-orang terdekat kami yang diculik kaum Taliban”, lanjutnya.

Hidup di bawah Taliban adalah masa kegelapan.

Ketika dipancing bercerita tentang masa 7 tahun di bawah pemerintahan Taliban, Harun dengan semangat bercerita. Masa itu keamanan memang terjamin. Tidak ada orang yang berani melanggar hukum karena ketika tertangkap, vonis akan dijatuhkan saat itu juga. Tidak ada orang yang berani mencuri, karena jika tertangkap maka dalam hitungan waktu tangan mereka akan hilang ditebas.

Sayangnya, kebebasan juga dibungkam. Seperti yang saya tulis di atas, masa itu adalah masa di mana kebebasan adalah barang mahal. Tidak ada sekolah? buat perempuan, tidak ada informasi untuk semua warga. Semua dikontrol kaum Taliban. Kaum lelaki tidak boleh memanjangkan rambut dan tidak boleh memotong janggut.

Dengan sedikit tertawa Harun bercerita kalau dia pernah sampai harus sholat dhuhur 3 kali gara-gara kepergok tentara Taliban. Sebenarnya dia sudah sholat dhuhur tepat ketika waktu masuk. Selepas sholat dia turun ke jalan dan dihadang tentara Taliban. Meski mengaku sudah melaksanakan sholat dhuhur, tentara Taliban tidak percaya begitu saja. Harun terpaksa sholat lagi di depan sang tentara. Kejadian ini berulang lagi ketika dia bertemu tentara lainnya yang juga tidak percaya kalau dia sudah melaksanakan sholat dhuhur, bahkan dua kali. Jadilah Harun sholat dhuhur tiga kali dalam satu hari.

That was a very dark time for us”, Hajibullah kawan Harun yang ikut dalam satu mobil bersama kami menambahkan. Saya bisa membayangkan bagaimana hidup dalam sebuah negara di mana kebebasan hanyalah sebuah utopia, hanya angan-angan.

Tapi Harun dan Hajibullah mengaku bingung jika ditanya lebih suka hidup di jaman sekarang atau jaman ketika Taliban berkuasa. Bagi mereka semua sama, sama-sama tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar mereka. Kebebasan dan demokrasi di jaman sekarang adalah barang biasa di Afghanistan, tapi kedamaian adalah barang mahal. Kedamaian di jaman Taliban adalah hal biasa, tapi kebebasan sangat jauh.

I think God create every good things for you Indonesian. You are so very very lucky, and you should thank God for that”, kata Harun.

Saya melepas pandangan ke luar mobil, melihat deretan sawah yang menghijau dengan latar bukit nun jauh di sana. Kadang kita memang terlalu sering mengeluh dan lupa bersyukur. Negeri ini indah, negeri ini aman, damai dan kita bebas untuk berbicara apa saja. Saya tiba-tiba bersyukur lahir dan hidup di Indonesia.

If you come to my country, I am sure that you will thank God every 10 minutes”, saya terdiam mendengar kata Harun. Diam, tidak mampu berkata apa-apa. [dG]

Blogger dari Makassar, senang jalan-jalan, rajin mengupdate blog dan mengasuh daenggassing.com seperti mengasuh anak sendiri