Sign In

Remember Me

Anak Muda dan Pesan Perdamaian

Pesta Komunitas Makassar 2014

Pesta Komunitas Makassar 2014

25 Mei 2014. Malam itu adalah malam yang tak bisa saya lupakan. Sebuah mimpi melihat teman-teman komunitas Makassar bersatu dalam sebuah aksi, dalam sebuah pesta penuh keceriaan akhirnya berbuah kenyataan. Pesta Komunitas Makassar yang kami gagas dalam kurun setahun berhasil digelar. 75 komunitas kreatif kota Makassar bersatu menggelar acara yang mereka anggap sebagai acara mereka, bukan acara orang yang mereka hadiri.

Saya selalu percaya, anak-anak muda harus diberi kesempatan dan dorongan untuk berkarya, berkumpul dan berbuat sesuatu yang positif. Coba lihat sejarah perjuangan bangsa kita, deretan pemuda begitu panjang mengisi gerbong perubahan negeri ini. Dari jaman pergerakan, revolusi sampai reformasi, pemuda selalu ada di gerbong terdepan.

“Beri saya 10 pemuda dan akan saya guncangkan dunia!” Kata bung Karno, proklamator dan pendiri republik ini. Pernyataan itu sekadar ilustrasi betapa bung Karno juga sangat percaya kalau pemuda bisa membuat perubahan.

Tapi sayangnya, pemuda juga sering terlupakan di masa damai. Di masa ketika pergerakan dan revolusi tak dibutuhkan, peran pemuda kadang terpinggirkan oleh mereka yang lebih dewasa.

“Belajar saja yang serius, tidak usah mengurus hal yang begituan.” Kata seorang pejabat pemerintahan pada teman-teman muda yang kebetulan aktif mengurus sebuah komunitas. Komunitas mereka konsen pada upaya memberikan pendidikan alternatif bagi anak-anak jalanan, sesuatu yang seharusnya jadi kerjaan pemerintah tapi tak berjalan sesuai harapan.

Di masa damai, para pemuda sering dianggap sebagai bagian yang kurang penting. Mereka hanya harus fokus belajar, di sekolah atau di kampus demi masa depan mereka. Hal-hal di luar itu bukan dianggap sebagai tugas mereka dan karenanya tak perlu mereka pusingkan.

Sayang, padahal potensi pemuda harusnya malah dijaga dan dikembangkan bukan hanya di lingkungan pendidikan semata tapi juga di lingkungan yang sebenarnya. Lingkungan dimana kelak mereka akan benar-benar hidup.

*****

Di Ambon saya bertemu anak-anak muda yang luar biasa. Mereka adalah komunitas-komunitas kreatif kota Ambon yang berkumpul dan berjejaring. Pasca sebuah kerusuhan kecil di Ambon pada bulan September 2011, anak-anak muda itu tiba-tiba merasa tersentak. Mereka sadar kalau mereka harus berjejaring dan melakukan aksi-aksi damai untuk memadamkan api yang sempat menghangat.

Ambon pernah merasakan sesaknya duka karena perpecahan antar agama di akhir tahun 90an. Ambon terpecah, damai menghilang dan hanya amarah yang menguasai kota itu. Anak-anak muda itu tak mau kejadian yang sama berulang lagi. Mereka tak mau kedamaian yang sudah mulai berangsur-angsur hadir itu kembali terkoyak.

Anak-anak muda itu kemudian bahu membahu menjadi provokator damai (begitu istilah mereka), menyebarkan pesan-pesan perdamaian lewat aksi-aksi kreatif mereka. Ada yang menulis, ada yang bermain musik, ada yang memotret dan ada pula yang memanfaatkan kemampuannya di bidang internet dan komunikasi. Semua demi satu mimpi, membawa perdamaian untuk kota Ambon yang mereka cintai.

Perlahan tapi pasti mimpi-mimpi mereka menjadi kenyataan. Anak-anak muda di Ambon makin merasa punya tempat untuk berkreasi, menumpahkan kreativitas dan membangun kebersamaan. Kebersamaan untuk mengenyahkan usaha-usaha perpecahan yang hanya membawa kerugian bagi semua pihak.

Anak-anak muda berhasil memperbaiki wajah kota Ambon yang tadinya dianggap sebagai kota yang penuh dengan kerusuhan menjadi kota yang ramah dan indah. Mereka memanfaatkan media sosial dan internet untuk menyebarkan pesan-pesan damai dari Ambon, sekaligus mengirimkan gambaran indah tanah Maluku yang seperti mengajak untuk dikunjungi.

Di Makassar, aksi anak-anak muda serupa juga digelar. Mereka sibuk berjejaring, bersama-sama berjuang memperbaiki citra kota Makassar yang juga lekat dengan citra negatif. Anak-anak muda itu dengan kreativitas mereka sendiri-sendiri juga membawa pesan-pesan damai. Mereka seperti berteriak ke dunia luar bahwa mereka bukan perusuh, mereka juga punya sesuatu yang dibanggakan!

*****

Apa yang dilakukan anak-anak muda di Ambon dan Makassar adalah contoh bagaimana positifnya jika energi anak-anak muda itu diarahkan ke jalan yang benar. Mereka bisa jadi pendamai yang baik, pembawa pesan damai yang sejuk dan bahkan jadi kekuatan besar untuk membawa dan merawat kedamaian.

Anak-anak muda hanya perlu diberi ruang kreatif yang luas dan dukungan yang kuat dari mereka yang lebih dewasa. Mereka juga pasti tak senang berseteru dan lebih mencintai masa damai. Kadang energi besar mereka saja yang tak tersalurkan sehingga berujung pada sesuatu yang negatif. Kalau diberi saluran yang tepat, energi itu bisa dipakai untuk hal-hal yang positif.

Jangan pernah meremehkan anak-anak muda, bahkan ketika kita sedang tak butuh revolusi fisik. Mereka harus dirangkul, diberi kebebasan dan selanjutnya dibiarkan tumbuh dengan sendirinya. Tumbuh menjadi pembawa pesan perdamaian. [dG]

#DamaiDalamSumpahPemuda

Blogger dari Makassar, senang jalan-jalan, rajin mengupdate blog dan mengasuh daenggassing.com seperti mengasuh anak sendiri